Baca! Mitos mitos Pernikahan Di Masyarakat Indonesia yang Fenomenal

Di Negara Indonesia ini memang memiliki banyak mitos yang dipercayai oleh beberapa masyarakat Indonesia. Dan pada tiap daerah memeiliki mitos yang berbeda-beda. Salah satunya adalah mitos pernikahan yang ada di Indonesia. Namun kali ini Pernikahan.pro hanya membahas beberapa mitos pernikahan di masyarakat pada beberapa daerah yang ada di Indonesia.

Suatu mitos adalah suatu kepercayaan kisah atau cerita yang sangat diyakini dan dipercayai yang ada didalam suatu kehidupan dalam masyarakat yang sudah turun temurun.

Pada sebagian besar mitos memang sangat sulit untuk dijelaskan dengan cara yang ilmiah. Tetapi, ada juga ada banyak beberapa mitos yang memang masuk akal dengan adab, tatakrama , akhlak dan agama. Namun terkadang mitos sendiri muncul dari adanya kepercayaan leluhur yang sampai pada saat ini masih untuk dipelajari

Mitos Pernikahan di Masyarakat2

Bagaimana dengan diri kalian sendiri, apakah ada banyak mitos yang saat ini kalian percayai? Atau mungkin anda sendiri akan terheran-heran akan adanya mitos-mitos tersebut. Maka dari itu berikut ini kita akan membahas mitos mitos pernikahan di masyarakat yang ada di beberapa daerah Negara Indonesia:

BACA JUGA: CINCIN PERNIKAHAN TERBAIK

Mitos Pernikahan di Masyarakat Jawa.

Mitos Pernikahan di Masyarakat1

Berikut mitos pernikahan di masyarakat Jawa yang mungkin masih kalian dengar pada beberapa daerah.

1. Anak mbarep (pertama) tidak boleh menikah dengan anak nomer tiga.

Apabila ditanya soal darimana asal usul mitos tersebut? Maka kebanyakan dari orangtua akan menjawab, karena hal itu memang sudah ada aturannya yang terlahir sejak masa leluhur masih hidup. Memang banyak sekali masyarakat Jawa yang masih mempercayai akan mitos tersebut.

Hal tersebut terkadang malah menimbulkan sugesti yang berlebihan pada masyarakat. Salah satu bentuk dari contohnya adalah jika ada pasangan anak pertama yang menikah dengan anak nomor tiga. Dari masyarakat sendiri ada beberapa yang berpendapat bahwa akan mendapatkan suatu malapetaka dalam keluarga.

2. Makan tidak boleh di depan rumah.

Makan di depan rumah atau teras dipercayai bisa mengurangi pintu rezeki yang masuk serta bisa menimbulkan dan mendapat kesialan. Sebenarnya mitos bisa dipikirkan dengan cara nalar kenapa orang tua sangat melarang diri kita jika makan di depan rumah.

Hal tersebut karena adab dan akhlak agar lebih ke sopan santun kepada orang yang sedang lewat, supaya tidak melihat kita makan di depan rumah.

3. Menikah pada bulan sura dilarang.

Ada beberapa saja pada masyarakat Jawa yang mempercayai apabila mereka melakukan suatu pernikahan di bulan sura. Maka pernikahan tersebut tidak boleh untuk dilaksanakan, hal tersebut dipercayai karena pada bulan sura merupakan bulan yang khusus Ratu Pantai Selatan untuk mengadakan hajatan.

Hal tersebut pasti sangat sulit untuk dipahami oleh para generasi muda yang memang tidak mengerti akan kisah cerita dari leluhur. karena hal juga sangat sulit untuk dibuktikan dengan nalar.

4. Anak tunggal harus dilakukan ruwatan.

Acara ruwatan biasa dilakukan oleh masyarakat jawa dengan bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT untuk menghindari adanya nasib yang tidak diinginkan. Dan biasanya pada anak tunggal memang termasuk kedalam daftar orang yang sangat perlu untuk diruwat.

Sehingga dengan adanya acara ruwatan ini anak tunggal tersebut bisa terhindar dari adanya suatu kesialan. Dan orangtua tidak perlu lagi merasa khawatir yang berlebihan kepada anak semata wayangnya tersebut.

5. Suara ayam berkokok punya arti tertentu.

Setiap kali ada ayam yang berkokok, pasti memiliki arti tersendiri. Dan setiap kokokanayam juga berbeda dari ayam daerah satu dengan daerah yang lainnya.

Contohnya saja pada ayam yang berkokok pada tengah malam yang berarti menandakan adanya kematian pada daerah tersebut.

Apabila ada ayam yang berkokok pada waktu siang hari, berarti akan ada orang yang hamil di luar nikah. berkokok pada sore hari artinya akan ada pencurian.

6. Dilarang memakai baju berwarna merah ketika melayat.

Apabila sedang pergi untuk melayat atau sedang melintasi pada area orang yang baru saja meninggal. Memakai pakaian yang berwarna merah merupakan suatu hal yang terlarang. Apabila ditanya kenapa terlarang, maka beberapa orangtua tidak akan menjawab.

Sebenarnya hal tersebut bisa kita mengerti dengan sendiri sebagai suatu sikap sopan santun kta kepada pelayat dan keluarga yang lain agar kita tidak terlihat sangat mencolok.

7. Dilarangi melompati garam yang tumpah pada lantai.

Melompati garam yang tersebar dilantai dipercayai bisa menimbulkan anyangen atau penyakit kencing dengan terus menerus selama seharian. Sehingga hal tersebut sangat sulit untuk dibuktikan sebab tidak ada alasan masuk akal akan mitos dilarang melompati garam yang akan mendapatkan penyakit anyangen atau kencing terus menerus selama sepanjang hari.

8. Rumah dilarang menghadap arah timur.

Rumah yang menghadap ke timur dianggap sebagai rumah yang senang disinggahi oleh makhluk halus. Banyak yang percaya bahwa rumah tersebut akan banyak hantunya dan dipakai sebagai basecamp para hantu. Hal ini juga belum pasti apakah rumah menghadap ke timur berkaitan dengan aturan dari leluhur.

9. Hindari “Rumah Tusuk Sate”.

Apa yang dimaksud rumah tusuk sate? Rumah tusuk sate maksudnya adalah suatu rumah yang letaknya langsung menghadap pada jalan yang lurus pas berada di tikungan atau ditabrak pada ujung jalan. Mitos ini sangat dipercayai beberapa orang apabila ada keluarga yang menempati rumah tusuk sate maka mendapatkan suatu kesialan.

10. Apabila tidur kesiangan bisa menghilangkan rezeki.

Dari masyarakat Indonesia, Jawa khususnya sudah banyak yang berkata bahwa bangun tidur kesiangan bisa menghilangkan pintu rezeki seta bisa menjauhkan dari jodoh. Mitos tersebut sebenarnya sangat bisa jika dipikirkan dengan cara yang nalar.

Sebab bangun kesiangan memang bisa membuat orang tersebut menjadi sangat malas. Sehingga menimbulkan rasa yang sangat malas dalam bekerja dan tubuh akan menjadi gampang sakit.

11. Dilarang tidur ketika waktu sore hari menjelang petang.

Sebenarnya mitos tersebut tidak hanya berlaku pada orang-orang masyarakat Jawa saja namun juga seluruh umat manusia. Melakukan kegiatan tidur pada waktu sore ketika belum waktu gelap dianggap sebagai suatu larangan yang sangat berkaitan dengan akhlak dan juga sopan santun dalam kehidupan manusia.

Adanya larangan untuk melakukan tidur pada waktu yang akan menjelang petang, karena waktu itu adalah waktu untuk menghormati waktu ibadah. Maka kita harus bisa bersiap-siap melakukan ibadah serta tidak untuk melewatkan waktu tersebut.

Karena adanya mitos-mitos tersebut, maka kita harus menghormati dan menghargai orang-orang yang mempercayai mitos tersebut dengan tanpa memberi suatu kritikan yang pedas. Sebagai manusia yang memiliki suatu kepercayaan lain, alangkah biknya kita mengerti serta memahami tentang apa yang diperlukan untuk menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain.

BACA JUGA: SOUVENIR PERNIKAHAN

Mitos Pernikahan di Masyarakat Aceh

Mitos Pernikahan di Masyarakat3

Di Aceh, yang identik dengan Syariat Islam, juga berkembang mitos atau kepercayaan tentang beberapa hal. Salah satunya yang paling dipercaya hingga saat ini adalah tradisi tentang pernikahan. Berikut ada beberapa kepercayaan masyarakat tentang pernikahan yang dilestarikan hingga kini:

1. Dilarang melakukan pernikahan di siang hari

Dari beberapa orang masyarakat yang ada di daerah Aceh, sebagiand ari mereka percaya kalau pernikahan yang dilakukan di siang hari bisa berdampak buruk terhadap hubungan dan keharmonisan dalam rumah tangga pada suatu saat nanti. Sebab, siang hari agak diidentikan dengan suhu dan cuaca panas.

2. Menjelang pernikahan pengantin pria dilarang keluyuran

Di Kota Aceh ketika menjelang acara pernikahan biasanya pengantin pria dilarang untuk pergi keluyuran pada waktu malam hari. Adanya hal ini disebabkan karena keluyuran malam hari merupakan prilaku yang dianggap sangat tidak baik untuk keharmonisan dalam berrumah tangga. Karena bisa ditimpa suatu kemalangan pada dirinya.

3. Remaja di Aceh dilarang untuk makan nasi di piring retak

Para remaja di Wilayah Aceh, baik itu pada remaja pria dan juga remaja wanita, disana dilarang apabila makan dan minum pada gelas dan piring yang kondisinya sudah retak. Sehingga apabila kebiasaan tersebut dilanggar, dipercaya pada remaja tersebut, dikhawatirkan mendapat jodoh yang sudah cacat, minimalnya adalah cacat moral.

4. Dilarang duduk pada pintu masuk bagi wanita muda

Di Aceh bagi para wanita muda disana dilarang untuk duduk maupun tidur pada pintu masuk ke dalam rumah. Hal itu dipercaya bagi siapa yang melanggarnya, akan mengalami susah dalam mendapatkan jodoh. Bahkan bisa dilangkahi saudaranya dalam suatu urusan pernikahan.

BACA JUGA: TIPS SUPAYA PERNIKAHAN AWET DAN BAHAGIA

Leave a Comment